Thursday, December 17, 2009

Book review: Ptolemy's Gate (Bartimaeus Trilogy, #3)

Ptolemy's Gate: Gerbang Ptolemy (Bartimaeus Trilogy, #3) Ptolemy's Gate: Gerbang Ptolemy by Jonathan Stroud

My rating: 4 of 5 stars

Inilah buku terakhir kisah Bartimaeus, Nathaniel dan Kitty. Setelah lama diperbudak masternya, Nathaniel, kekuatan si jin Bartimaeus yang dahulu mumpuni kini makin berkurang. Nathaniel sendiri perlahan-lahan muak dengan lingkungan penyihir pemerintahan di sekelilingnya dan mulai merindukan perasaan keberanian murni dan polos seperti yang sempat ia miliki di masa kecil. Sementara itu Kitty diam-diam mempelajari seluk beluk kepenyihiran dan makhluk halus demi tujuan tertentu. Ketiga tokoh tersebut akhirnya harus bekerjasama untuk menghadapi pemberontakan penyihir dan demon berkekuatan luar biasa, dan hubungan di antara ketiganya pun tidak akan pernah sama lagi. Sekali lagi salut untuk Jonathan Stroud yang berhasil menciptakan dunia magis yang unik berisi berbagai jin, penyihir dan manusia di dalamnya, serta menguntai cerita yang seru, lucu sekaligus menegangkan mengenai arti sesungguhnya keberanian, ambisi, persahabatan dan kesetaraan.

View all my reviews >>

Book review: The Golem's Eye (Bartimaeus Trilogy, #2)

The Golem's Eye: Mata Golem (Bartimaeus Trilogy, #2) The Golem's Eye: Mata Golem by Jonathan Stroud

My rating: 4 of 5 stars

Petualangan jin berlidah tajam Bartimaeus dan majikan mudanya Nathaniel berlanjut di buku ini. Selain bertutur lewat sudut pandang kedua tokoh tersebut seperti di buku pertamanya, sekuel ini mengikutsertakan sudut pandang Kitty, anggota kelompok Resistance yang berseberangan dengan pemerintahan penyihir. Sekali lagi saya kagum akan konsep dunia yang dibuat Stroud. Para penyihir yang berkuasa tidak punya kekuatan sendiri dan hanya mengandalkan demon sebagai alat – mereka bahkan tidak bisa melihat makhluk halus tanpa bantuan lensa kontak khusus. Sedangkan beberapa di antara commoner (non-penyihir) justru memiliki kekuatan tertentu, seperti melihat demon atau benda sihir, atau kekebalan dari serangan sihir. Paradoks yang sungguh cerdas.

Buku ini masih seseru dan selucu prekuelnya, tapi seringkali saya berusaha membaca lebih cepat bab-bab yang menggunakan sudut pandang Kitty karena saya lebih ingin mengetahui apa yang terjadi pada Bartimaeus dan Nathaniel. Tapi ada satu bagian yang cukup membuat merinding yaitu saat Kitty dan rekan-rekannya dari kelompok Resistance merampok makam dan menemukan 'sesuatu' di bawah sana. Atau mungkin itu pengaruh membaca buku ini sampai pukul satu dini hari? Menurut Bartimaeus, jam-jam tengah malam adalah waktu di mana ketujuh plane (tingkat keberadaan) berada paling dekat satu sama lain, memungkinkan orang melihat hal-hal yang biasanya tak dapat dilihatnya......

View all my reviews >>

Thursday, October 15, 2009

Book review: The Amulet of Samarkand (Bartimaeus Trilogy, #1)

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus Trilogy, #1) The Amulet of Samarkand by Jonathan Stroud

My rating: 4 of 5 stars

Tiga kata untuk kisah ini: Seru, seru dan seru. Sang pengarang menciptakan dunia baru yang unik di mana pemerintahan Inggris dikuasai oleh penyihir, namun mereka tidak memiliki kekuatan sendiri melainkan memanfaatkan makhluk halus atau demon untuk melaksanakan keinginannya. Nathaniel, anak muda yang berhasrat menjadi penyihir hebat, memanggil jin berusia 5,000 tahun, Bartimaeus, untuk menjalankan misi tertentu yang secara tak terduga berakibat fatal dan menyebabkan mereka terjebak dalam intrik dunia sihir.

Jika jalan cerita di atas terkesan gelap dan penuh ketegangan, itu memang benar. Tapi buku ini punya tokoh unik yang memeriahkan suasana yaitu Bartimaeus – salah satu tokoh literer paling menarik yang saya temui akhir-akhir ini. Jin narsis yang satu ini doyan bersilat lidah dan selalu menambahkan pendapatnya sendiri lewat catatan kaki. Hubungan antara Bartimaeus dan majikannya, Nathaniel juga amat menarik untuk disimak – antara suka dan tidak suka, butuh tapi tidak butuh. Hal lain yang unik adalah para penyihir di sini bukanlah orang-orang pemberani berkekuatan besar seperti dalam kisah fantasi pada umumnya. Secara garis besar mereka digambarkan sebagai makhluk ambisius, culas dan haus kekuasaan. Pendeknya, saya tersihir oleh pesona kisah ini dan tak sabar membaca kelanjutannya.

View all my reviews >>

Wednesday, October 7, 2009

Haiku breeze #3

memorable lines
with easy-listening tune
Michael Learns To Rock


(I was riding a cab when the driver played cheesy old songs on his stereo. A Shoulder to Cry On by Tommy Page, anyone? How the guy ended up in a recording studio is beyond me. Then the next song was one from Michael Learns to Rock (where are they from anyway – Denmark? Sweden?). Ah, those cheesy, sappy love songs from my adolescence. Keep on learning, guys. "Love is one big illusion/ I should try to forget/ But there is something left in my head/ (All together now!) Iiiiii won't forget...")

Monday, October 5, 2009

Batik is all around

With co-workers. I've never felt so proud of our heritage as I did that day!

Book review: The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society by Mary Ann Shaffer

My rating: 4 of 5 stars

Like many Indonesians perhaps, the only thing that comes to my mind when I hear the word Guernsey is that it is the place where Tommy Suharto keeps his money. This book reveals a lot more about the small British Channel island, occupied by the Germans in WW II. A group of islanders gather to form the Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, and an unexpected connection drew them to the attention of Juliet Ashton, a London author researching for a new book. Told in letters between the characters, the book is sweet and funny but also harrowing in parts where the islanders tell their experience during Nazi occupation. It may not be a literary masterpiece but this "book about books" sends an uplifting message about the power of literature and will be cherished by bibliophiles. Also, don't miss an appearance from one of the most well-known Victorian authors.

View all my reviews >>

Monday, September 14, 2009

Separated at birth?

This might make more sense for those who are familiar with both Taiwanese and Japanese entertainment. When I first saw Yabu Kota of Hey! Say! JUMP I thought I've seen him somewhere before... well, compare these two pictures.

Ella
(S.H.E.)
Taiwan

Yabu Kota

(Hey! Say! JUMP)

Japan


The funny thing is, Yabu is a boy band member managed by Johnny's Entertainment, so naturally he looks like a girl. Ella, on the other hand, is the tomboy one with boyish voice from girl band S.H.E. So the boy and the girl look alike because the boy is girly and the girl is boyish. Strange world, eh?

(P.S. I think Yabu is kind of a cutie though.)